“TIMEZONE”

Simple. No make up. Tinggi. Berisi. Casual. Si manis berkulit kuning langsat. Dan senyumnya yang manis.

Itulah kesan pertamaku saat melihatnya berjalan dihadapanku. Dalam hati, aku berharap semoga aku bisa satu kelas dengannya. Ya, karena ini adalah hari pertama ajaran baru, kelas pun baru dari sebelumnya. hanya beberapa orang teman saja yang bisa satu kelas lagi. Aku melihatnya berjalan menuju ruang kelas bersama dengan temannya. Mungkin teman yang sebelumnya sudah ia kenal.

Saat mendengarkan dosen menjelaskan materi, ia serius memperhatikan dan marah kalau diganggu. Hehehehe. Aku terus memperhatikannya. Dan aku rasa aku mulai menaruh hati untuknya. Terlalu cepat mungkin, tetapi itulah yang aku rasakan. Aku tidak sendirian, ternyata ada orang lain yang ingin mendekatinya. Entah ia atau temannya. Ku simpan perasaanku. Dan aku akan menunggunya. Aku kesal saat tau ia ternyata memiliki hubungan dengan teman kelasku juga. Kesal rasanya. Hingga akhirnya aku mendapat kesempatan untuk bisa dekat dengannya. Yuhuuuu. Aku senang. Akhirnya ia sudah tidak bersama dengan orang itu lagi. Tidak membuang waktu lagi aku mendekatinya. Tapi aku tidak berani untuk berbicara langsung. Lewat sms saja dulu.

Zi, lagi apa? Gw ganggu ga?

Akhirnya aku berani juga untuk memulai percakapan. Tidak sabar aku menunggu sms balasan darinya. LED hapeku pun berkedip. Yak, Fizi sudah membalas smsku. Segera kubaca.

Eh Zion. Lagi dengerin radio aja nih. Kenapa hayo, tumben sms gw?

Begitulah Fizi, membalas smsku dengan ramah. Aku senyum-senyum sendiri membacanya. Kubalas sms darinya.

Nggak kenapa-kenapa Zi. Iseng aja. Hehe.

Sms-an pun berlangsung hingga malam hari dan hari berikutnya. Sudah beberapa minggu kami kenal dan mulai dekat. Fizi meminta tolong padaku untuk mengantarnya pulang saat ingin bertemu dengan teman SMA nya dulu. Karena sudah dekat, gw-lo berubah menjadi aku-kamu.

“On, aku boleh minta tolong nggak sama kamu?”

“Boleh. Kenapa Zi?”

“Aku hari sabtu mau ketemu sama temen SMA aku, aku boleh minta tolong anter aku pulang nggak? Aku takut kemaleman pulangnya.”

“Oh, boleh-boleh aja kok Zi. Sabtu kapan? Sabtu ini?”

“Iya on, sabtu ini. Boleh nggak?”

“Yaudah liat nanti aja ya Zi. Nanti smsan aja.”

“Asik. Makasih ya On sebelumnya.”

“Iya Zi sama-sama.”

Wah, aku senang dapat kesempatan mengantar Fizi pulang ke rumahnya. Aku jadi bisa tahu dimana rumahnya. Hehehehe. Hari yang ditunggu pun tiba. Fizi sudah bertemu dengan teman-temannya. Dan aku menunggu kabar darinya. Sore hari Fizi mengabariku.

On, aku sebentar lagi selesai nih. Kamu jadi atau bisa nggak anter aku pulang? Kalo nggak bisa nggak apa-apa On.

Tanpa ragu aku membalas smsnya.

Bisa Zi. Kamu udah selesai? Aku jalan sekarang ya. Ketemu dimana?

Sent. Tidak lama Fizi membalasnya.

Ketemu langsung disini aja On. Boleh nggak?

Tentu saja aku menjawabnya boleh. Dan aku langsung menuju tempat dimana Fizi berada saat itu. Dan akupun bertemu dengannya disana.

“On, lama nunggu ya?”, tanyanya cemas.

“Engga kok Zi. Aku tadi liat-liat dulu didalem. Udah mau pulang?”, tanyaku.

“Iya On udah. Ma’af ya On ngerepotin kamu.”, jawabnya dengan perasaan tidak enak padaku.

“Nggak kok Zi.”

Lama aku kenal dengannya. aku merasa senang dekat dengannya. Ia orang yang menyenangkan. Sederhana. Ya, itulah yang aku lihat darinya. Setelah pulang kuliah, aku dengan temanku yang lain ingin main dulu dan tentu ada Fizi, juga teman dekatnya. Ida namanya. Fizi dan temannya itu pergi dulu membeli keperluan sehari-hari. Dan kita semua akan bertemu lagi di sebuah resto yang menyajikan minuman dan cemilan. Berbincang disana. Makan dan minum bersama. Aku merasa ada yang aneh saat ada temanku yang mulai menggoda temanku yang lain.

“Ndo, lu anterin Fizi pulang sana. Kasian kan rumahnya jauh.”, goda Groho ke Endo.

“Gw kan nggak ada motor. Emang mau balik sekarang?”, tanyanya.

“Iya udah. Gw sama Fizi mau balik nih.”, sahut Ida.

Mendengar itu aku kesal dan memilih untuk pulang dengan memberikan alasan kepada teman-temanku, tetapi alasanku itu bohong. Daripada aku disitu terus dan makin kesal. Lebih baik aku pulang saja.

“Gw balik duluan ya. Tadi di sms nyokap, harus pulang sekarang.”, aku pamit dengan langkah cepat.

“Yah, masa buru-buru sih On. Baru juga jam segini.” Groho melarangku untuk pulang.

“Iya, soalnya nyokap gw udah sms daritadi. Gw duluan ya.”

Setelah kejadian hari itu aku takut Fizi tidak bisa menjadi pacarku dan diambil oleh orang lain. Sebelum hal itu terjadi, aku segera menghubungi Fizi. Aku menyatakan perasaanku padanya.

Zi, lagi apa? Boleh ngomong sesuatu nggak?

Tidak lama kemudian Fizi membalas smsku.

Lagi dengerin radio nih On. Sambil baca-baca buku. Kenapa On?

Aku membalasnya lagi.

Zi, sebenernya itu kita gimana sih? Pacaran, tapi kaya bukan orang pacaran. Temenan, tapi deket gini. Kamu mau nggak Zi jadi pacar aku?

Lama Fizi membalas smsku. Mungkin ia kaget membaca smsku, tapi akhirnya ia membalasnya.

Iya ya On. Hmm. Aku takut On. Aku pernah disakitin. Kalo kamu mau janji sama aku ga akan nyakitin aku mungkin bisa aku terima On.

Aku bingung mau menjawab apa.

Iya Zi, aku janji ga akan nyakitin kamu.

Yaudah On, aku kasih jawaban kamu nanti ya. Kasih aku waktu dulu.

Iya Zi.

Kami pergi ke salah satu tempat perbelanjaan. Dimana kami bisa bermain banyak permainan disana. Tempat itu sering disebut dengan Timezone. Disanalah aku menanyakan hal yang telah kami bicarakan sebelumnya melalui sms.

“Zi, gimana jawaban kamu?”, tanyaku langsung tanpa basa-basi lagi.

“Yang mana On?”, Jawab Fizi pura-pura tidak tahu.

“Iya yang itu Zi, kamu mau nggak jadi pacar aku? Plis Zi jawab.”, tanyaku memelas.

“Aku kan udah bilang sama kamu On waktu di sms itu. Aku takut On.”

“Tapi nggak semua orang itu sama Zi. Kamu jawab pertanyaan aku Zi.”

“Emm. Ma’afin aku ya On.”

“Jadi kamu gamau terima aku Zi? Yaudah nggak apa-apa Zi. Aku ngerti.”

“Ih, On. Aku belum selesai ngomong. Ma’af aku nggak bisa nolak cinta kamu. Hehehehe.”

“Kamu serius Zi? Berarti sekarang kita pacaran? Makasih ya Zi.” Aku senang sekali mendengar jawaban Fizi saat itu. Yes, yes, dalam hati aku berteriak karena senang. Dan aku pun membelai rambut Fizi dan menciumnya.

“Ih, On. Malu. Tuh, diliatin sama orang. Hahahaha.”

“Hehehehe.”

Ya. Akhirnya penantian dan kesabaranku membuahkan hasil. Aku mendapatkan cinta Fizi, orang yang sangat aku sayangi. Aku akan menjaganya dan tidak akan membiarkan ia direbut lagi oleh orang lain, seperti sebelumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: