Kekerasan Dikalangan Siswa Dan Mahasiswa !!!!

Akhir-aKhir ini kita sering mendengar tentang kekerasan di kalangan siswa dan mahasiswa,,  Apa itu kekerasan? Kekerasan atau Violence berasal dari Bahasa Latin Violentius yang berasal dari kata vī atau vīs berarti kekuasaan atau berkuasa merupakan merupakan sebuah ekspresi baik yang dilakukan secara fisik ataupun secara verbal yang mencerminkan pada tindakan agresi dan penyerangan pada kebebasan atau martabat seseorang yang dapat dilakukan oleh perorangan atau sekelompok orang.
Akar Kekerasan: Kekayaan tanpa bekerja, Kesenangan tanpa hati nurani, Pengetahuan tanpa karakter, Perdagangan tanpa moralitas, Ilmu tanpa kemanusiaan, Ibadah tanpa pengorbanan, Politik tanpa prinsip.
The Roots of Violence: Wealth without work, Pleasure without conscience, Knowledge without character, Commerce without morality, Science without humanity, Worship without sacrifice, Politics without principles. — Mahatma Gandhi (1869-1948)

Kasus kekerasan di kalangan pelajar sangat meresahkan sekaligus menodai dunia pendidikan Indonesia yang masih dihantui banyak masalah. Apalagi kasus kekerasan yang terjadi menimbulkan kerusakan, perampasan dan luka fisik. Persoalan ini menegaskan ada kesalahan dalam sistem pendidikan Indonesia. Jika tidak, mengapa kekerasan dalam pendidikan terus menerus terulang?

Kekerasan pada mahasiswa yang belakangan sering terjadi, bukan hanya dari aparat kepada mahasiswa atau mahasiswa terhadap aparat, namun juga antar nahasiswa itu sendiri. Mahasiswa sendiri sering memancing aparat untuk bertindak represif dan aparat sendiri juga seperti tak bisa menahan sabar sehingga memancing terjadinya kekerasan. Dan ada kesan mahasiswa sering terpicu untuk melakukan tindakan anarkis sehingga sperti menghilangkan intelektualitas dari diri mereka.
Selain masalah demonstrasi yang dilakukan mahasiswa tersebut, akhir-akhir ini media juga ramai memberitakan tawuran yang terjadi di kampus. Kalau dulu tawuran hanya dilakukan siswa-siswa STM atau SMA, entah mengapa kini juga dilakukan para mahasiswa yang belakangan menunjukkan kecenderungan meningkat pula.
Tawuran tersebut bisa terjadi dengan kampus lain atau juga sesame kampus, hanya berbeda fakultas. Masyarakat pun sering dibuat bingung menyaksikan tawuran yang sempat diliput berbagai media itu, tak ubahnya seperti preman. Mereka memakai senjata tajam atau saling melempar batu.
Padahal dari tawuran tersebut tak ada yang didapat selain fasilitas perkuliahan yang hancur, jadwal kuliah berantakan serta dendam kesumat yang tentunya membuat merekalah sebenarnya menjadi pihak yang paling dirugikan. Agaknya mereka lupa, perguruan tinggi adalah “gerbang” terakhir sebelum seseorang terjun ke masyarakat. Seseorang sosiolog bahkan menyebutkan tampaknya para mahasiswa yang tawuran itu lupa kalau dalam beberapa tahun lagi mereka akan menjadi pemimpin di masyarakat.

Menanggapi itu, kita perlu mencari akar permasalahan atas berbagai kekerasan pelajar. Pertama, meninjau kembali implementasi pendidikan karakter. Pendidikan karakter, menurut Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) adalah bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, dan watak.
Sementara menurut Tadkiroatun Musfiroh (UNY, 2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills).
Dalam penerapannya, pendidikan karakter bergerak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang. Untuk itu, ada baiknya pemerintah memberi kesempatan membuat pembelajaran kreatif sesuai kebutuhan siswa. Misalnya, aktivitas negatif tawuran dapat dialihkan dengan memassifkan kegiatan olahraga positif. Tidak ada salahnya, pemerintah dan sekolah menggagas olahraga tinju sebagai kegiatan alternatif yang positif.
Kedua, spritualitas dalam pendidikan. Mengutip Rachael Kasler dalam bukunya The Soul of Education, pada dasarnya siswa merindukan pendidikan spiritual untuk menyiapkan mereka membangun inter-connection (silaturahmi, baik dengan Tuhan, manusia dan alam) , compassion (rasa kasih sayang dan kepedulian), dan character (akhlak mulia) agar dapat mengisi kehidupan mereka.
Penerapan spiritualitas dapat dimanifestasikan melalui memaksimalkan kegiatan kerohanian, pelajaran agama, dan pergaulan guru kepada murid. Kegiatan keagamaan diharapkan dapat membantu internalisasi nilai positif. Selain itu, mencegah lebih baik daripada mengobati. Jika deteksi dini sudah dilakukan maka potensi penyimpangan dapat diminimalisir.
Ketiga, penegakan hukum yang tegas dari pihak sekolah. Pemberian hukuman sebaiknya tidak dipahami dari sudut pandang negatif. Sebab hukuman diberikan untuk memberikan efek jera. Sekarang, yang diperlukan adalah mekanisme dan paradigma hukuman. Usahakan hukuman bersifat mendidik dan konstruktif, bukan menghakimi agar tidak menambah keliaran siswa.

Dalam sudut pandang sosiologi, perilaku tawuran termasuk konformitas perilaku agresivitas kelompok. Sebab pelaku menganggap tawuran sebagai sesuatu yang normatif dan dianggap sebagai kebenaran kelompok. (Simangunsong, 2004). Pada titik ini, peran strategis sekolah dapat dimainkan yaitu memberikan penyadaran kepada siswa dimana tawuran perilaku menyimpang dan memberikan hukuman bersifat mendidik.

Referensi :

http://id.wikipedia.org/wiki/Kekerasan

http://kampus.okezone.com/read/2011/09/22/367/505730/kekerasan-pelajar-dan-kematian-pendidikan

http://iqbalramdani.wordpress.com/2009/12/30/kekerasan-di-kalangan-mahasiswa/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: